Senin, 28 Januari 2013

situs makam KERAMAT PASIR MIRI-MIRI dll

1.    Situs Makam Keramat Pasirmiri-miri
Situs Makam Pasirmiri-miri berada di wilayah desa Cipedes, kecamatan Paseh, terdiri dari: makam Eyang Wali Pameget, Eyang Wali istri. Patih Balung Tunggal, Eyang jampbrong, Eyang Janggot dan Mama Raden. Eyang Raksasa, Eyang Sangkal Bolong, Sembah Dalem Waru Suta, Eyang Odas, Eyang Aling-aling, Eyang Jaga Dora, Eyang Jaga Paksa dan Eyang Jiwa Guna. Kompleks makam terletak di lahan seluas 700 tumbak.
Bangunan-bangunan yang terdapat di lokasi Makam Keramat Pasirmiri-miri, terdiri dari 2 buah bale, mushola, benteng dan sumur. Jalan menuju makam selebar 1 meter dengan panjang sekitar 50 meter terbuat dari teras semen. Seluruh pembangunan infrastruktur ini diperoleh dari sumbangan pengunjung.
SENGATAN DUPA ZIARAH
MANUSIA memecahkan masalah-masalah hidupnya dengan akal dan sistem pengetahuan. Tetapi akal dan sistem pengetahuan itu ada batasnya. Makin sederhana kebudayaan manusia, makin sempit lingkaran batas akalnya. Persoalan hidup yang tidak dapat dipecahkan dengan akal, dipecahkannya dengan magis, ilmu gaib, yaitu tindakan manusia untuk mencapai suatu maksud melalui kekuatan-kekuatan yang ada di alam, serta seluruh kompleks anggapan yang ada di belakangnya. Magis dapat dikatakan suatu ritus dalam bentuk do’a dan mantera yang diucapkan manusia untuk menegaskan hasrat seseorang terhadap alam dan kekuatan-kekuatan gaib atas dasar kepercayaan pada daya yang menguasai manusia untuk suatu maksud yang nyata (Raymond Firth dalam Toto Sucipto. 2006:227)
Koentjaraningrat, seorang suhu antropologi Indonesia menyebutkan mula-mula manusia hanya mempergunakan ilmu gaib atau magis untuk memecahkan masalah-masalah hidup yang ada di luar batas kemampuan dan pengetahuan akalnya. Pada waktu itu religi belum ada dalam kebudayaan manusia. Lambat laun terbukti bahwa dengan magis tidak ada hasilnya, maka mulailah ia yakin bahwa alam didiami oleh makhluk-makhluk halus yang lebih berkuasa daripadanya dan mencoba berhubungan dengan makhluk-makhluk halus itu. Dengan demikian timbullah religi.
Mengutip pendapat Durkheim, religi timbul dari sikap sentimen rasa kesatuan terhadap alam misteri supranatural yang menguasai dunia. Rasa kesatuan inilah yang menjamin ketenangan (kepuasan) yang biasanya dilakukan manusia dengan berusaha mengadakan hubungan melalui berbagai cara seperti sembahyang dan upacara-upacara suci lainnya. Dengan demikian, religi merupakan alam kepercayaan (believe), yaitu opinion atau idea, sedangkan upacara-upacara (ritus) merupakan modes of action.
Upacara-upacara semacam itu pada dasarnya merupakan usaha untuk memelihara dan memperkuat kesakralan, agar kontak dengan alam supranatural tetap berlangsung yang kemudian akan menimbulkan keteagan hidup manusi. Salah satu perilaku spiritual dalam upaya memelihara hubungan tersebut terwujud dalam sikap “sumerah” atau dalam istilah tradisi dikenal dengan istilah “ngaawi-bitung”, mengosongkan diri untuk mendapatkan kekuatan Illahi, Yang Maha Kuasa.
Sikap “kesumerahan” pada kekuatan Illahi itu, menurut Koentjaraningrat, merupakan wujud dari emosi keagamaan (religions emotion), yaitu getaran jiwa yang pada suatu ketika pernah menghinggapi seorang manusia dalam waktu hidupnya, walaupun getaran itu hanya berlangsung beberapa waktu saja. Emosi keagamaan ada di belakang setiap kelakkan serba religi, sehingga menyebabkan timbulnya sikap keramat, baik pada kelakuan manusia itu sendiri maupun pada tempat kelakuan itu diungkapkan.
Berbicara mengenai sikap keramat, terdapat suatu anggapan di kalangan masyarakat bahwa tempat-tempat keramat adalah tempat bersemayamnya arwah leluhur dan kekuatan-kekuatan gaib. Tempat keramat yang didukung oleh keberadaan tokoh mitos yang kharismatik, umumnya dijadikan tempat ziarah bagi masyarakat dengan maksud dan tujuan tertentu. Menurut Rachmat Subagya (1981), ziarah pada hakekatnya menyadarkan manusia bahwa hidup di dunia hanya sementara dan manusia merupakan pengembara yang hanya singgah. Ziarah dengan mengunjungi tempat-tempat keramat, makam leluhur, maksudnya bervariasi dan salah satunya adalah memperoleh “restu” dari leluhur yang dianggap “telah lulus dalam ujian hidup”.
Kunjungan atau ziarah ke makam, terutama makam leluhur atau nenek moyang, merupakan tindakan yang dianggap penting bagi sebagian masyarakat. Di Kabupaten Bandung, penyebaran makam keramat hampir merata di setiap wilayah kecamatan. Tapi, hanya beberapa saja yang sangat ramai dikunjungi, misalnya Makam Keramat Pamudar di Kecamatan Cikancung, Makam Keramat Pasirmiri-miri di Kecamatan Paseh, makam Keramat Mahmud di Kecamatan Soreang, Makam Keramat Cijambe di Kecamatan Pacet. Makam keramat Ranggawulungsari Gunung Wayang di Kecamatan Kertasari, Makam Kermat Eyang Sepuh dan Eyang Anom, Makam Kermat Mundingkawati, dan lain-lain.
Makam-makam yang diziarahi oleh masyarakat umum karena dianggap keramat, terdiri dari makam tokoh agama, makam para leluhur suatu wilayah, makam tokoh-tokoh penting dalam sejarah, serta makam tokoh mitos.
a.     Situs Makam Keramat Pasirmiri-miri
Pada sebuah bukit, tidak jauh dari jalan desa Cipedes, kecamatan Paseh, terdapat kompleks makam keramat. Namanya Keramat Pasirmiri-miri. Setiap hari, kompleks pemakaman ini selalu dikunjungi masyarakat, baik dari wilayah masyarakat sekitar maupun dari luar daerah. Adakalanya, warga yang datang dari jauh kerapkali menginap sampai beberapa hari lamanya. 
Kompleks makam ini, bagi kalangan peziarah merupakan salah satu lokasi yang “wajib diziarahi” dalam sebuah rute ziarah spiritual di Tatar Sunda. Seorang peziarah asal Garut dan Cianjur yang kebetulan sempat berbicara  dengan penulis menyebutkan, makam keramat Pasirmiri-miri dipandang sebagai lokasi tempat ‘pertemuan’ para wali di awal-awal penyebaran Islam di tatar Sunda, sekitar akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17. Pendapat ini dikuatkan oleh kuncen Makam Keramat Pasirmiri-miri.
Di kompleks makam keramat ini terdapat beberapa makam yang diduga berasal dari awal abad ke-17 berbarengan dengan munculnya kekuasaan Mataram atas beberapa wilayah di Tatar Sunda. Makam-makam itu dibatasi sekelilingnya dengan benteng setinggi 2 meter. Dan makam-makam itu, ada yang berada di dalam benteng, ada pula yang berada di luar benteng.
Makam yang berada di dalam benteng, yaitu makam Eyang Wali Pameget, Eyang Wali istri. Patih Balung Tunggal, Eyang jampbrong, Eyang Janggot dan Mama Raden. Sedang di bagian luar benteng terdapat makam Eyang Raksasa, Eyang Sangkal Bolong, Sembah Dalem Waru Suta, Eyang Odas, Eyang Aling-aling, Eyang Jaga Dora, Eyang Jaga Paksa dan Eyang Jiwa Guna.
Sekarang, lokasi makam itu telah dibangun dengan menggunakan alas keramik, sehingga nilai kekunoannya menjadi hilang. Padahal, sebelum dibangun, makam yang terletak di lahan seluas 700 tumbak, itu bercirikan batu-batu di bawah pohon yang usianya ratusan tahun. Sayang, sampai sekarang pun, tidak ada yang mau menjelaskan siapa sebenarnya Eyang Wali Pameget dan Eyang Wali Istri, sebab hanya dua makam inilah yang betul-betul dikeramatkan. Kuncen Pasirmiri-miri mengaku, ‘pamali’ untuk menyebutkan namanya. Kepada para peziarah, Kuncen hanya menyebutkan Eyang Wali Pameget dan Eyang Wali Istri.
Informasi yang didapat pun memang sangat minim. Kuncen lain menyebutkan, Eyang Wali Pameget berasal dari Mataram, dan memiliki tunggangan khusus, yaitu seekor macan putih yang menandakan bahwa ia seorang yang sakti. Biasanya makam ini akan terasa ramai diknjungi pada hari-hari tertentu, seperti Hari Jum’at Kliwon, dan hari-hari besar agama Islam. Tetapi, ada juga beberapa pantangan, diantaranya tidak boleh berkunjung pada hari Rabu dan dilarang merokok di dalam kompleks makam Eyang Pameget dan Eyang Istri.
Kalau mendengar keterangan dari kuncen, dan nama-nama orang dalam kompleks pemakaman Pasirmiri-miri, terdapat beberapa jabatan yang disandang oleh tokoh-tokoh tersebut. Seperti Patih Balung Tunggal, Sembah Dalem Waru Suta, serta Jaga Dora dan Jaga Paksa. Pasirmiri-miri pun akhirnya mirip sebuah wilayah kekuasaan yang selalu dilalui orang secara wara-wiri.
Bangunan-bangunan yang terdapat di lokasi Makam Keramat Pasirmiri-miri, terdiri dari 2 buah bale, mushola, benteng dan sumur. Jalan menuju makam selebar 1 meter dengan panjang sekitar 50 meter terbuat dari teras semen. Seluruh pembangunan infrastruktur ini diperoleh dari sumbangan pengunjung.
b.     Situs Makam Keramat Pangudar
Sekitar abad ke-18, semasa kedudukan Belanda atas Indonesia, wilayah Kabupaten Bandung rupanya menjadi sebuah kawasan rebutan adu pengaruh untuk berbagai kepentingan dan tujuan. Jika Belanda hanya berniat mengeksploitasi lahan-lahan produktif untuk kepentingan ekonomi melalui pengembangan produkdi-produksi unggulan seperti kina, teh dan kopi untuk mengusai perdagangan dunia di Eropa, maka berbeda dengan Cirebon, Banten dan Mataram. Politik ekspansi kolonisasi di wilayah Priangan dalam upaya perlawanan terhadap imperialisme Belanda diwarnai pula dengan penyebaran Agama Islam yang dimulai sejak abad ke-16 hingga abad ke-18.
Dalam kurun waktu selama kurang lebih dua abad itu, pengaruh Agama Islam begitu cepat merebak hingga ke pedalaman, termasuk di wilayah pedalaman Kabupaten Bandung. Kompleks makam keramat Pasirmiri-miri di Kecamatan Paseh merupakan bukti penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh Eyang Wali Pameget beserta istrinya, Eyang Wali Istri yang berasal dari Mataram berbarengan dengan masa kolonisasi Mataram di Tatar Ukur. Sementara itu, di Kampung Cinangka, Desa Mandalasari, Kecamatan Cikancung, juga dapat ditemukan makam keramat Pangudar, seorang tokoh penyebar agama Islam yang berasal dari Cirebon.
Dikisahkan, sekitar abad ke-18, atas perintah Penguasa Kanoman telah diutus salah seorang keturunannya yang bernama R. H. Pangeran  Panji Argaloka atau Saca Wadana untuk menyebarkan agama Islam di wilayah Cicalengka.
Beliau datang sendirian ke wilayah Cicalengka dengan meninggalkan keluarga di Cirebon. Oleh sebab itu, beliau pun seringkali bolak-balik antara Cirebon dan tempat yang baru ditempatinya. Kehadiran R.H. Pangeran Panji Argaloka di tempat baru itu, rupanya dapat diterima oleh masyarakat sekitar karena memperlihatkan sikap dan perilakunya yang baik. Ditambah dengan pengetahuan agama Islam yang cukup luas, serta keahlian lainnya, terutama dalam bidang pengobatan lahir maupun bathin, hal ini semakin membuat warga merasa simpati. Bahkan, dalam waktu yang relatif singkat, telah banyak yang menjadi pengikut setia untuk mendalami ajaran Agama Islam.
Pengaruhnya makin lama semakin luas dan besar sehingga tidak memungkinkan lagi untuk bolak-balik ke Cirebon, karena harus melayani warga yang begitu antusias terhadap ajaran agama Islam. Akhirnya, atas idzin keluarga di Cirebon, beliau pun menetap di Cinangka dengan menikahi seorang perempuan warga setempat.
Setelah menjadi warga Cinangka, R.H. Pangeran Panji Argaloka semakin memberikan pengaruh yang sangat kuat dengan pendukung dan pengikut yang dari tahun ke tahun terus meningkat. Keadaan ini membuat gentar Pemerintah Hindia Belanda karena ada kecurigaan munculnya sebuah gerakan perlawanan yang kerapkali dilakukan oleh kalangan pesantren terhadap ketidakadilan yang dilakukan pihak Belanda sebagai kaum imperialis terhadap kaum pribumi.
Karena rasa ketakutan itulah, pada akhirnya pihak Belanda berencana menyergap R.H. Pangeran Panji Argaloka. Rencana itu, sebenarnya sudah tercium, akan tetapi beliau tidak bergeming maupun berusaha untuk menghindarinya. Sehingga pada akhirnya, beliau pun benar-benar ditangkap dengan cara diborgol untuk dibawa ke markas kompeni. Anehnya pada saat mau diberangkatkan, mendadak R.H. Pangeran Panji Argaloka hilang (tilem) tanpa berbekas.
Tapi, sebelum tilem beliau sempat memberi amanat dengan terlebih dahulu membuka (ngudar) borgolnya melalui kesaktian yang dimilikinya. Itulah sebabnya kemudian orang menjulukinya Eyang Pamudar.
Situs Budaya Makam keramat Eyang Pamudar atau R.H. Pangeran Panji Argaloka terletak di Kampung Cinangka, Desa Mandalasari, Kecamatan Cikancung memiliki luas 1,5 ha. Sarana/prasarana berupa mesjid, pos, bangunan makam berukuran 12 X 14 m. Setiap hari rata-rata dikunjungi sebanyak 15 peziarah domestik yang berasal  Pulau Jawa maupun dari luar Pulau Jawa.
c.      Situs Makam Keramat Sembah Dalem Kalijaga
Makam keramat Sembah Dalem Kalijaga atau Eyang Paku Jaya terletak di Kampung Ciwangi, Desa Cipaku, Kecamatan Paseh. Jaraknya hanya sekitar 500 m dari jalan raya Cipaku-Sayang. Sekarang berada di kawasan pemakaman umum warga setempat.
Meskipun berada di kawasan pemakaman umum, kondisi makam Keramat Sembah Dalem Kalijaga atau Makam Eyang Paku Jaya, tampak berbeda dengan makam-makam umumnya. Makam ini berada di bawah pohon yang berumur ratusan tahun. Di sekitar makam terdapat sebuah saung yang diperuntukan bagi peziarah yang bermaksud menginap. Seputar makam, memang sudah tidak terlihat lagi nilai kekunoannya karena pada sekitar tahun 1990-an, kawasan ini dibangun secara permanen dengan menggunakan keramik.
Nilai kekunoan hanya masih terlihat dari batu-batu nisan yang berasal dari batu alami yang terserak menutupi permukaan pekuburan. Dan yang membedakan pula dengan dengan makam-makam lain, bahwa hampir setiap minggu makam ini selalu saja ada yang berkunjung dengan berbagai kepentingan. Ada yang berasal dari kalangan yang mengaku sebagai keluarga, para peziarah dengan maksud-maksud tertentu dengan tujuan ingin mendapatkan sugesti agar sukses dalam segala urusan.
Apalagi di kalangan peziarah ada yang menyakini, bahwa semasa hidupnya Eyang Paku Jaya adalah sosok yang dianggap telah memberikan kenyamanan dan perlindungan terhadap masyarakat sekitar. Sehingga banyak orang yang berkunjung ke sana hanya unutuk mendapat karomah, menjadi orang yang benar-benar jaya dalam mengarungi kehidupan ini.
Julukan Sembah Dalem Kalijaga sendiri uncul, karena semasa hidupnya Eyang Paku Jaya adalah sosok yang senantiasa member perlindungan kepada warga dengan banyak memberikan bantuan, baik bantuan berupa harta benda, maupun bantuan berupa kesaktiaan di saat-saat warga mendapat ancaman bahaya dari pihak luar.
Siapa sebenarnya sosok Eyang Paku Jaya sesungguhnya?
Berdasarkan hasil penelusuran dari berbagai sumber, ada yang berpendapat bahwa Eyang Paku Jaya semasa hidupnya adalah seorang pemimpin besar pewaris tahta kerajaan Timbanganten. Bahkan menurut sumber tersebut, yang disebut dengan Eyang Paku Jaya adalah tidak lain dan tidak bukan ternyata Ratu Cakrawati Wiranatakusumah.
Dadan Sungkawa dari Majalah Ujung Galuh menulis, sebagai berikut:
Di Kampung Ciwangi, Désa Cipaku, Kecamatan Paséh kapanggih makam kuno ti abad ka-17. Eta makam teh, katelahna makam Eyang Ratu. Tapi, ari ku masarakat urang Ciwangi mah disebutna Makam Sembah Dalem Kali Jaga atawa Paku Jaya.
Saenyana mah, nurutkeun Omay Sonjaya, salah saurang tokoh masarakat Ciwangi, ngaran Sembah Dalem Kali Jaga téh euweuh hubungan anu natrat jeung Sunan Kali Jaga anu nyebarkeun agama Islam di Pulau Jawa. Da ari maksud Sembah Dalem Kali Jaga di éta tempat téh ngan saukur sesebutan urang dinya pédah baheulana salila dina alam penjajahan, ka éta lembur tara kasorang ku kaum Penjajah. Aya ogé nu lunta-lanto ka dinya, malah sok dilinglungkeun. Puguh jaman harita mah kaasup kénéh leuweung geledegan.
Beuki dieu beuki dieu, aya diantarana anu panasaran, saha saenyana Éyang Ratu téh?. Sok sanajan, masarakatna sorangan masih kénéh cangcaya, saha atuh sabenerna makam anu kiwari disebut Sembah Dalem Kali Jaga anu aya di lembur Ciwangi téh?
Mémang, cenah, éta makam téh nepi ka ayeuna sok pada ngadegdeg. Pangpangna ku nu hayang ngalap berkah. Da kungsi kajadian, aya urang Jakarta anu sok mindeng ka dinya bet diparengkeun maju usahana. Nepi ka
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih sudah membaca dan berkunjung di Kharedox.
Salam persahabatan.